Selasa, 29 September 2015

Makassar, Kota Masa Depan di Timur Indonesia

 
Pesatnya pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir dengan angka selalu di atas 8 persen, kondisi infrastruktur dan membaiknya sarana transportasi serta kemudahan perizinan, menstimulasi Kota Makassar menjadi masa depan untuk investasi properti.

Tak hanya sektor properti, sektor konstruksi di ibu kota Sulawesi Selatan ini pun mengalami lonjakan permintaan. Terutama permintaan yang berasal dari pengembangan perumahan, dan properti komersial macam pusat belanja, apartemen, pergudangan, dan perhotelan.

Demikian data terbaru Bank Indonesia (BI) atas Survey Harga Properti Residensial dan Perkembangan Properti Komersial selama triwulan pertama tahun 2015 yang dilansir beberapa waktu lalu dan dikutip dari Kompas.com.

BI menyebut, harga rumah-rumah di Makassar mengalami lonjakan paling tinggi se-Indonesia yakni rerata 5,05 persen. Terutama untuk rumah tipe menengah dengan kenaikan harga sekitar 8,01 persen.
Secara tahunan, kinerja pertumbuhan harga rumah menengah di kota berjuluk "anging mamiri" tersebut pun tak kalah positif, meroket sekitar 22 persen. Demikian halnya dengan kinerja kenaikan harga rumah tipe kecil, dan tipe besar.

Untuk harga rumah tipe kecil, meski kalah tinggi ketimbang Batam yang melambung 9,15 persen, namun Makassar masih memperlihatkan geliat positif dengan kenaikan harga 3,70 persen secara triwulanan dan 16,12 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun 2014 lalu.
Sedangkan harga rumah tipe besar, Makassar mencatat kenaikan 3,43 persen secara triwulanan dan 13,52 persen secara tahunan atau tertinggi di Indonesia. Kinerja meyakinkan juga diperlihatkan properti komersial. Menurut survey BI, hal tersebut terindikasi dari performa seluruh segmen properti komersial sewa di Makassar, selama kuartal pertama 2015 mengalami kenaikan tingkat hunian.
Kenaikan paling tinggi terjadi pada properti komersial ritel (pusat belanja) sebesar 5,77 persen yang dipicu meningkatkan permintaan di tengah pasokan yang relatif stabil. Demikian halnya dengan tarif sewa yang melejit 14,92 persen secara triwulanan menjadi Rp 449.047 per meter persegi per bulan.
Di sektor lahan industri, Makassar juga mengalami peningkatan penjualan sebesar 9,70 persen sejalan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi dan realisasi investasi yang meningkat terutama untuk pengembangan pabrik, dan pergudangan.

Alhasil, harga lahan industri pun ikut melambung menjadi rerata Rp 1.625. 475 per meter persegi atau tumbuh 19,30 persen. Sedangkan di sektor apartemen, harga jual naik signifikan 3,01 persen menjadi rerata Rp 19,113 juta per meter persegi dengan tingkat penjualan 5,85 persen dari total pasokan 2.532 unit.

Hasil survey inilah yang memotivasi raksasa-raksasa properti salah satunya PT Ciputra Surya Tbk, melirik Makassar sebagai wilayah ekspansi bisnis mereka di masa depan. Ciputra misalnya saat ini sedang mengembangkan kawasan megaproyek Center Point of Indonesia (CPI) yang di dalamnya terdapat CitraLand City Losari Makassar.

Direktur Utama PT Ciputra Surya Tbk, Harun Hajadi, mengungkapkan estimasi biaya pembangunan atau gross development value (GDV) CPI tersebut di luar reklamasi. Untuk pembangunan reklamasinya saja diperkirakan sekitar Rp 3,5 triliun. (bn)


Sumber: http://www.properti.net/artikel-makassar-kota-masa-depan-di-timur-indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar